NAMA MISTERIUS

hai aku veronika, salah satu mahasiswi yang sedang melakukan pertukaran pelajar di salah satu Universitas. Hari itu aku sedang melakukan praktikum mengenai pertumbuhan suatu organisme di lab IPA. Seharusnya tugas ini adalah tugas kelompok namun sayangnya satu satunya teman kelompokku, saskia ia pulang lebih dulu karena harus mengerjakan tugas lainnya yang deadline nya lebih dekat, jujur saat itu aku merasa fine fine saja apa bila aku mengerjakan praktikum ini sendirian dan karena hal itu aku mengerjakan praktikum ini sampai larut malam lewat dari jam biasanya aku pulang. Namun aku tak mempermasalahkan hal ini, namun berubah semenjak kejadian itu terjadi, begini ceritanya...

Tepat ketika jam 21.00 aku masih fokus melakukan praktikum itu, hatiku memang sudah tergerak untuk cepat cepat pulang dan membereskan semua perlengkapan yang ada ditubuhku seperti kaca mata, masker, jas putih khas lab, dan sarung tangan , namun aku masih tetap ingin menyelesaikan praktikum ini secepat mungkin jadi aku paksakan saja.. toh juga tidak ada tugas yang terlalu berarti lainnya pikirku. Hingga KREEK... pintu lab itu terbuka dan masuklah salah satu mahasiswi yang aku kira awalnya itu Saskia yang ingin membantuku tapi ternyata salah, dia bukan Saskia. Aku tak kenal siapa dia dan tak pernah juga melihat wajahnya di kampus ini selama satu semester aku menjadi mahasiswi di universitas ini. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam panjang, cantik dan terlihat polos, namun ada yang janggal bagiku, kulitnya yang bersih membuatku tersadar bahwa wajahnya pucat ku pikir dia sedang tak enak badan dan terlintas dipikiranku mengapa dia tak memakai make up saja? tetapi aku tak terlalu menghiraukan hal tersebut dan tetap fokus pada praktikumku.

Hingga dia berdiri disampingku untuk melakukan tugasnya, aku rasa dia melakukan tugas prakikum yang jenisnya sama dengan yang aku lakukan. karena saat itu aku sedang sendiri dan keadaan sangat sunyi akhirnya aku mencoba untuk basa basi basic yang dimulai dari perkenalan identitas, yang diketahui namanya adalah Kirana. Kirana sangat pendiam sebab dia hanya menjawab apa yang aku tanyakan dan jawaban itu sangat singkat, ku tanyakan kembali dari kelas mana ia berasal dan ia menjawab "kelas x (samaran)". setelah itu aku tak menanyakan hal lain lagi. Ada rasa kesal sebab ia tidak merespon balik secara continue. Hingga percakapan itu tidak lagi berlanjut. Kulihat dari sudut mataku ia perlahan menuju ke belakang lab sambil berkata "jangan pulang larut malam ya, bahaya!" dengan nada sedikit tegas namun lirih. sontak aku terkejut mendengar hal itu.

Kepalaku seketika ingin menoleh kebelakang untuk melihat Kirana, memastikan apakah benar itu Kirana yang berbicara karena aku tak yakin sebab Kirana begitu pendiam dan saat itu tiba tiba saja berbicara tanpa ada yang bertanya. Tetapi setelah aku menoleh kebelakang aku tak melihat tanda tanda adanya kirana sudah kucoba memanggilnya namun tak ada jawaban. Aku masih dihantui dengan rasa penasaran kemana hilangnya Kirana, hingga saat tugas praktikum ku selesai dan bersiap untuk pulang aku melihat ada kalung perak berbentuk hati yang didalamnya berisi foto Kirana. Dan mulai saat inilah petualanganku dalam mencari keberadaan kirana dimulai. 

Ini sudah sekitar seminggu dari terakhir kali aku bertemu dengan Kirana, kalungnya masih bersamaku aku tak hurus memberikannya pada siapa dan hari ini ku putuskan untuk menuju kelasnya dan menanyakan pada temannya. Satu, dua, tiga teman dikelasnya tak ada yang tahu keberadaan Kirana. Sempat putus asa dalam pencarian itu hingga suatu hari ketika aku sudah melupakan kejadian malam itu, aku diminta bantuan oleh dosen disana untuk membantu mencari salah satu data alumni mahasiswa 5 tahun yang lalu, jelasnya aku tak tahu tetapi disitu aku benar benar ingin membantu. Tak sengaja saat kubuka halaman pertama data itu, aku melihat wajah Kirana. Aku senang akhirnya aku mendapatkan identitas lengkapnya cepat cepat ku tulis dan kusimpan di dalam tas ku. 

Setelah mendapatkan informasi tersebut keesokan harinya aku menuju alamat rumah Kirana, tujuannya ingin mengembalikan kalung, tak lebih. Saat sampai rumahnya aku disambut oleh ibu ibu tampaknya ia tinggal sendiri. Lalu ku tanya, "bu apa benar ini rumah dari kirana?" ibu itu menjawab dengan sedikit gugup "iya mbak benar, ada apa ya?" langsung saja ku jelaskan niat dan tujuanku kemari, namun ibu itu menimbulkan ekspresi tak percaya dan shock. Aku kebingungan namun disitu aku tetap diam. Perlahan ibu itu menyatakan satu hal hingga membuatku tak percaya dan merinding mendengarnya. 

Ibu itu berkata bahwa ia adalah ibu dari Kirana dan alasan beliau terkejut karena, Kirana telah meninggal 5 tahun yang lalu tepat sebelum ia merasakan adanya wisuda. Dikatakan Kirana adalah anak yang berprestasi dan sangat semangat belajar kecintaanya pada ipa dan lab ipa tak dapat dipisahkan. Hingga ia sangat sering untuk lembur demi sebuah projek penilitian. Namun pada malam itu ia pulang terlalu larut malam hingga kejadian naas pun terjadi pada kirana. Ia dicegat oleh sekelompok preman yang mengambil seluruh barang berharga Kirana, Kirana yang terpojok mencoba membela diri namun apalah daya Kirana yang seorang diri tewas ditangan preman itu karena perutnya ditusuk sebilah pisau yang dibawa salah satu preman.

Ibu Kirana sangat sedih saat menceritakan ini, aku dapat melihatnya dari tatapan dan cara bicara beliau yang sedikit bergetar. Tak dapat dipungkiri aku pun tanpa sengaja meneteskan air mata hinggu ku berikan kalung Kirana yang entah ku dapatkan dari mana. Jika seharusnya Kirana sudah tiada, mungkin saja itu adalah hal terakhir yang kirana sempat titipkan ke padaku untuk diberikan ke pada ibu tercintanya. Sebelum aku pulang dari rumah Kirana aku mencoba menenangkan ibu Kirana untuk selalu tabah menerima kenyataan dan mengikhlaskan kirana, semoga arwah Kirana dapat tenang dan diterima disisi Tuhan.

Dari petualanganku mencari keberadaan Kirana yang sangat kebetulan aku sangat tak menyangka dan sulit diterima akal sehat namun itu kenyataannya. Aku senang dapat membantu Kirana yang ingin menitippkan salah satu barang peninggaannya, yang mungkin itu adalah hal yang sangat berharga untuk ibu Kirana dan aku berterimkasih padamu Kirana ya walau percakapan kita singkat namun pesanmu yang pernah kamu katakan tidak akan pernah aku lupakan dan akan aku ingat baik baik. 

ituah pertemuanku dengan dirinya yang tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi yang jelas itu adalah pertemuan yang paling berkesan dan tidak akan pernah aku lupakan.


END

                                                                                                                             by : JOURNAL RESTU

Komentar