KISAH KAMI
Siapa kamu? mengapa kamu disini? ma.. pa.. ada orang asing yang memasiki kamarku tolong...
hufftt.. ternyata itu hanya mimpi, terasa sangat nyata tapi siapa dia? kring.. kring.. ( bunyi alarm) ah sudah waktunya aku harus mandi dan siap siap untuk pergi kesekolah.
ya begitulah kurang lebih aku mengawali hari, dari bangun tidur hingga pergi kesekolah untuk menimba ilmu. tapi hari ini berbeda, aku mendapati mimpi yang tak jelas mengapa gambaran itu bisa hadir. tak tahu kejadian ini terjadi setelah berapa hari aku memimpikan hal itu, yang jelas gambaran mengenai dirinya sudah samar samar terlupakan.
Jadi saat orang tuaku pergi keluar kota untuk urusan bisnis aku sendiri dirumah, tak ada yang menemani. si mbok hanya dapat menemaniku sampai pukul 17.00 saja. aku adalah anak tunggal jadi tak memiliki saudara siapapun, jujur aku sangat kesepian tetapi aku tak ingin membahas ini lantaran tak ingin memberatkan orang tuaku. sebab aku merasa mereka saja jarang bisa ada disampingku mereka terlalu fokus dengan urusannya masing masing. aku tak ingin nantinya adikku merasakan hal yang sama, jadi kuputuskan untuk tetap tutup mulut.
malam harinya hawa terasa sangat mencekam tak ada suara satupun kecuali suara dari gadget pribadiku. tak pernah sebelumnya aku merasakan hal ini. namun sialnya saat sedang asik bermain gadget batrai nya loubet dan tiba tiba saja mati. ku putuskan saat itu untuk mengambil cas dan kembali ke kamar. saat ku buka pintu kamar... suasana makin mencekam ditambah aku yang lupa menghidupkan lampu teras rumah. "ahhh sial" ucapku. hingga ku temukan cas hp itu dan ku kembali ke kamar. saat ku buka pintu kamar aku sontak terkejut lantaran melihat sesosok perempuan yang tak ku kenal dan perempuan itu persis dengan perempuan yang hadir dalam mimpiku.
aku berteriak "tolong.. tolong.." tapi tak ada yang mendengar, hal itu jelas saja karena dirumah tak ada siapapun. ku berfikir sejenak, aku mulai menenangkan diri agar tak begitu panik sebab perempuan tersebut tidak bergerak ia diam saja dan dia juga seusiaku jadi aku tak terlalu khawatir akan itu, namun rasa panik masih melekat di dalam hatiku. perlahan lahan aku mendekatinya dan bertanya siapa kamu? lalu ia menjawab dengan sangat spontan dan dengan nada yang tegas "ini rumahku kau tak berhak atas rumah ini, cepat tinggalkan sekarang!!!"
seolah olah sebagai teguran keras namun aku tak mau kalah akan hal itu. ku jawab dengan intonasi yang sama "bukan ini bukan rumahmu, ini rumahku!" layaknya anak kecil yang berebut mainan aku dan dia saling menatap dengan tajam dan saat ku berinisiatif untuk menariknya keluar. tak menyangka sentuhan tanganku terhadap tangannya seperti tembus. disitu aku langsung terdiam, terpaku, dan tak bisa mengucapkan kata kata. hingga pada akhirnya aku pingsan dan tak sadarkan diri.
Non bangun non, kok tidur dilantai begini? aku tersadar dan langsung memeluk si mbok. tak tau harus cerita mulai dari mana yang jelas aku masih sangat ketakutan. hari itu aku demam dan hanya berdiam diri di kamar. sampai sampai aku tak sadar telah tertidur pulas dan ketika aku bangun tidur waktu sudah menunjukkan 18.00, yang artinya si mbok sudah pulang dan aku kembali sendiri dirumah.
saat ini sakitku sudah menghilang dan aku mencoba melupakan kejadian semalam dan berupaya tak berprasangka buruk, namun hal itu dipatahkan ketika aku melihat dengan jelas kursi meja belajarku ditarik hingga terplanting kebelakang. disitu aku sangat merasa ketakutan dan akhirnya perempuan itu datang kembali. kehadirannya persis berdiri didepan ranjang ku dia berkata "mengapa kau masih disini?" aku mencoba menenangkannya "maaf jika kehadiranku membuatmu marah, tapi sungguh aku tak tahu apa apa.. tolong jangan ganggu aku"
seolah olah pikiran anak anak yang labil, tingkahnya terhadapku berubah 180 derajat. ia tiba tiba saja menangis mengatakan "maafkan aku yang telah membuatmu ketakutan aku hanya ingin berteman" lalu kujawab saja "dengan senang hati, asalkan kamu jangan pernah membuatku ketakutan, aku sintya" dengan menjulurkan tangannya ya walau ku tahu kami tidak akan bisa merasakan sentuhan satu sama lain "aku saras, terimakasih telah bersedia menjadi temanku" ucapnya.
pada perkenalan singkat itu yang aku tahu saras bukanlah manusia, tetapi aku merasa nyaman tak ada rasa ketakutan sedikitpun, ini aneh. hingga sampai disatu titik aku menanyakan mengapa saras mengatakan ini rumahnya, yang jelas jelas kini adalah rumahku. saras menjawab dengan lantang sambil mengingat ngingat. saras berkata "dulu sebelum kamu tinggal disini ini adalah rumahku, dan ini adalah kamar ku yang sebagian waktuku ku habiskan di tempat ini, sampai disuatu malam ada segerombolan perampok yang memasuki rumahku untuk mengambil harta benda, aku yang panik mencoba untuk bersembunyi di lemari namun persembunyiaku diketahui ketika orang tuaku mencoba menelfonku. dan akhirnya aku dikunci di lemari itu sampai aku kehabisan nafas dan kini menjadi arwah"
setelah mendengar kesaksian itu aku ikut sedih dan aku mulai parno, bukan parno dengan saras namun kejadian yang menimpa saras. aku mencoba menelfon orang tuaku. aku tak menceritakan kejadian adanya saras, justru aku meminta orang tuaku untuk mempekerjan satpam dan pembantu rumah tangga lebih banyak dari sebelumnya serta menambah keamanan rumahku. namun dari sekian banyaknya pekerja yang ada 24 jam untukku, orang tuaku masih saja tidak bisa berada disampingku. hanya saras lah yang kini selalu mengerti aku.
setelah aku beranjak dewasa aku berpikir bahwa saras berhak untuk meninggalkan dunia ini dan hidup tenang disana yang lebih layak untuknya. kutanyakan pada saras apa persyaratan dirinya untuk bisa meninggalkan dunia ini. "mengapa kau tanyakan begitu sintya?" tanya saras lalu ku jawab "aku ingin kamu hidup tenang tanpa harus memikirkan masalahku dan hidupku, karena aku sadar kau tak layak terus terusan berada disini"
"caraku untuk bisa meningalkan dunia ini adalah ikhlas, iklas melepaskan semua yaitu kamu sintya. aku tak pernah merasa senyaman ini sebelumnya, kamu adalah teman ku satu satunya" setelah mendengar itu aku berpikir kembali dan ku balas "aku pun begitu saras tapi di dunia ini tidak ada yang abadi suatu saat aku akan tiada dan mungkin aku tak akan bisa lagi bersamamu, kelak aku akan memiliki keluarga yang harus ku prioritaskan. aku tak ingin kamu merasa kesepian lagi. pulanglah saras aku ikhlas" saras mengerutkan alisnya dan menundukkan kepalanya dan.. "bailah sintya jika itu keputusanmu aku akan pergi dan mencoba mengikhlaskan mu, terimakasih telah bersedia menjadi temanku didunia ini" saras mencoba memelukku unruk menunjukkan betapa beratnya meninggalkan satu sama lain. dan akhirnya saras benar benar pergi.
aku bersimpuh dan menangis sejadi jadinya tak menyangka akan seberat ini melepaskan saras. namun ku mencoba ikhlas dan tetap menjalani hari hari tanpa saras hingga aku menemukan pujaan hatiku dan memiliki keluarga.
itulah kisahku bersama dirinya walau saras bukanlah manusia namun hatinya kesetiannya kepadaku tak pernah berubah. saras teman kecilku yang selalu ada bersamaku disaat aku sedih maupun senang. THANK YOU saras aku masih sanagat merindukanmu!
END
by : RESTU JOURNAL
Komentar
Posting Komentar